Cup of Excellence Indonesia · 2021–2026
Sejak 2021, 94 kopi Indonesia masuk peringkat Cup of Excellence. Beberapa meraih skor di atas 90. Sebagian besar berada di sekitar 87 atau 88.
Apa kesamaan kopi-kopi teratas? Kami memeriksa semua yang bisa dibaca dari hasilnya.
Setiap titik adalah satu kopi juara. Ada 94, dari 4 kompetisi.
Makin ke kanan, makin tinggi skor dari juri.
Setiap tahun jurinya baru dan kopinya baru, jadi skor sedikit bergeser dari tahun ke tahun.
Supaya adil, setiap kopi kami bandingkan dengan tahunnya sendiri. Garis putus-putus adalah nilai tengah tahun itu.
Kopi natural paling sering juara: 52 dari 94.
Tetapi setiap proses punya kopi di dekat puncak dan di dekat dasar. Garis putih menunjukkan rata-rata tiap kelompok. Hampir tidak bergeser.
Bagaimana dengan metode fermentasi baru? Anaerob, carbonic maceration, tambahan ragi: 24 juara memakai salah satunya.
Skornya sama saja dengan kopi klasik.
Juara paling banyak datang dari Aceh dan Jawa Barat. Tetapi begitu sampai di final, daerah asal tidak mengangkat skor.
Hanya Jambi yang menonjol, sedikit lebih rendah dari yang lain.
Apakah Jambi memang berbeda? Kemungkinan tidak.
Kami membuat 17 perbandingan. Kalau melihat sebanyak itu, biasanya ada satu yang menonjol karena kebetulan. Dengan hanya 9 kopi, selisih Jambi terlalu kecil untuk dipercaya.
Ateng tumbuh di seluruh Aceh dan ada di balik hampir separuh juara. Sigararutang, S-795 dan Typica mengisi sebagian besar sisanya.
Gambarnya berulang: sebaran lebar, rata-rata dekat nilai tengah.
Kebun yang lebih tinggi katanya menghasilkan kopi yang lebih manis. Ini 47 juara yang ketinggiannya kami ketahui.
Garisnya datar. Kopi dari 1.200 m sama baiknya dengan kopi dari 1.700 m.
Dari petani kecil dengan lahan kurang dari setengah hektare sampai perkebunan lima puluh hektare lebih.
Datar lagi. Luas kebun tidak meramalkan skor.
Mungkin datanya terlalu bising untuk menunjukkan apa pun? Ini kopi yang sama, skor dibandingkan harga lelang.
Sekarang titik-titiknya naik. Pembeli membayar lebih untuk skor yang lebih tinggi. Kalau kaitan itu ada, ia terlihat.
Semua perbandingan dalam satu grafik. Setiap titik adalah selisih satu kelompok dari nilai tengah. Setiap garis menunjukkan seberapa yakin kami.
Garis yang melewati nol berarti tidak ada perbedaan yang jelas. Hampir semuanya begitu. Hanya harga yang berdiri jauh.
Bukan proses. Bukan daerah. Bukan varietas, ketinggian, atau luas kebun. Di antara kopi-kopi teratas Indonesia, tidak satu pun dari semua itu memberi tahu kami kopi mana yang akan juara.
Asal bukanlah rasa. Aceh tidak punya satu rasa. Begitu juga Jawa, atau Bali. Lereng yang sama bisa memberi secangkir yang bernyanyi dan secangkir yang diam.
Perbedaannya ada di tangan. Pemetik yang menunggu satu hari lagi sampai buahnya matang. Pengolah yang membalik bedengan jemur sebelum hujan. Petani yang mencicipi, mengubah satu hal, lalu mencoba lagi musim depan.
Karena itu kami melihat melampaui peta, kepada orang-orang di dalamnya.
Cakupan. 94 kopi yang masuk peringkat Cup of Excellence Indonesia 2021, 2022, 2023 dan 2026. Lot yang terbagi di dua peringkat dihitung sekali. Pemenang Nasional, kopi tepat di bawah batas, tidak disertakan. Karena semua kopi di sini sudah finalis, analisis ini tidak berkata apa pun tentang apa yang membawa kopi ke final.
Caranya. Setiap kopi dibandingkan dengan skor tengah tahunnya sendiri. Untuk tiap kelompok kami mengukur rata-rata selisihnya dari kopi lain di tahun yang sama, seberapa pasti selisih itu, dan apakah bisa jadi kebetulan, lalu mengoreksinya karena kami membuat 17 perbandingan. Harga lelang mencakup 2021, 2022, 2023; lelang 2026 berlangsung 1 Desember 2026.
Sumber. Halaman hasil dan lelang Alliance for Coffee Excellence. Ketinggian dan luas kebun dari farm directory, bila tersedia.
| Kelompok | Kopi | Selisih dari tahunnya | Rentang mungkin |
|---|---|---|---|
| Proses: Fermentasi baru | 24 | −0.08 | −0.64 – +0.57 |
| Proses: Natural | 52 | +0.24 | −0.16 – +0.63 |
| Proses: Honey | 21 | −0.01 | −0.51 – +0.50 |
| Proses: Washed | 15 | −0.40 | −0.81 – +0.07 |
| Proses: Giling basah | 6 | −0.16 | −0.90 – +0.78 |
| Daerah: Aceh | 38 | +0.15 | −0.29 – +0.59 |
| Daerah: Jawa Barat | 27 | +0.10 | −0.33 – +0.54 |
| Daerah: Sulawesi Selatan | 6 | +0.46 | −0.11 – +1.05 |
| Daerah: Jambi | 9 | −0.76 | −1.18 – −0.32 |
| Daerah: Jawa Timur | 6 | +0.34 | −0.65 – +1.64 |
| Daerah: Bali | 5 | −0.64 | −1.22 – −0.22 |
| Varietas: Ateng | 44 | +0.02 | −0.41 – +0.41 |
| Varietas: Sigararutang | 17 | −0.20 | −0.67 – +0.33 |
| Varietas: Typica | 10 | −0.20 | −0.64 – +0.26 |
| Varietas: S-795 | 13 | +0.22 | −0.36 – +0.75 |
| Kaitan: Ketinggian | 47 | r −0.02 | −0.31 – +0.27 |
| Kaitan: Luas kebun | 42 | r 0.00 | −0.30 – +0.30 |
| Kaitan: Harga lelang | 70 | r +0.66 | +0.50 – +0.77 |