Kopi Arabika Gayo

Ringkasan Koro, dari sumber di bawah

Kopi Arabika Gayo tumbuh di dataran tinggi Gayo, Aceh, dan terdaftar sebagai indikasi geografis sejak 28 April 2010.

Wilayah IG ini mencakup Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, dengan kebun arabika di ketinggian 900–1.700 mdpl (nomor IDG000000005). Varietas yang disebut dokumen permohonan IG-nya: Timtim, Ateng Jaluk, Borbor, P-88 dan S795; prosesnya giling basah (wet-hulled), semi-washed dan washed. Katalog IG DJKI menggambarkan aroma dan perisa yang kompleks, body yang kuat, rasa tidak pahit, keasaman rendah dan sedikit manis. Menurut pemegang IG, panen raya jatuh September–Januari dan panen sela Maret–Juni. Di Cup of Excellence Indonesia 2021–2023 tercatat 26 produsen dari Gayo, dua di antaranya di peringkat pertama: Dilen Ali Gogo (Pantan Musara) pada 2021 dengan skor 89,28, dan Bahagia Ginting (Koperasi Ribang Gayo Musara) di peringkat 1A pada 2022 dengan 90,59.

Indikasi geografis terdaftar · Arabika

Nomor IG
IDG000000005
Terdaftar
28 Apr 2010
Provinsi
Aceh
Kabupaten tercakup
Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Gayo Lues
Varietas
Timtim, Ateng Jaluk, Borbor, P-88, S795
Proses
giling basah (wet-hulled), olah semi-basah (semi-washed), olah basah (washed)
Ketinggian
900–1700 mdpl

Profil rasa menurut katalog IG DJKI

Karakter kopi arabika dari dataran Tinggi Gayo, dikenal memiliki citarasa khas dengan ciri utama antara lain aroma dan perisa yang kompleks dan kekentalan yang kuat. Kopi Arabika Gayo juga memiliki rasa yang tidak pahit dan memiliki keasaman yang rendah serta memiliki sedikit sentuhan rasa manis.

Musim panen

Petani dan pengolah

Sumber